Tari Srimpi Pandelori adalah tari kelompok yang
ditarikan oleh 4 orang penari putri. Tari ini menceritakan kisah dari negeri
Arab, yang mengisahkan tentang pertempuran antara Dewi Sudarawerti dan Dewi
Sirtupilaeli, yang keduanya memperebutkan seorang pangeran dari Arab, yaitu
Wong Agung Jayengrana. Keduanya ingin diperistri oleh Wong Agung Jayengrana.
Dalam pertempuran itu tidak ada yang kalah maupun menang, sehingga kedua putri
tersebut akhirnya bersaudara dan menjadi istri Wong Agung Jayengrana.
Pages
Tampilkan postingan dengan label klasik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label klasik. Tampilkan semua postingan
Senin, 21 November 2011
srimpi renggowati
Suatu jenis tari klasik dari daerah Yogyakarta yang selalu dibawakan oleh 4
penari, karena kata srimpi adalah sinonim bilangan 4. Hanya pada Srimpi
Renggowati penarinya ada 5 orang. Menurut Dr. Priyono nama serimpi
dikaitkan ke akar kata “impi” atau mimpi. Menyaksikan tarian lemah gemulai
sepanjang 3/4 hingga 1 jam itu sepertinya orang dibawa ke alam lain, alam
mimpi.
Menurut Kanjeng Brongtodiningrat, komposisi penari Serimpi melambangkan
empat mata angin atau empat unsur dari dunia yaitu :
1. Grama ( api)
2. Angin ( Udara)
3. Toya (air)
4. Bumi ( Tanah)
Sebagai tari klasik istana di samping bedhaya, serimpi hidup di lingkungan
istana Yogyakarta. Serimpi merupakan seni yang adhiluhung serta dianggap pusaka
Kraton. Tema yang ditampilkan pada tari Serimpi sebenarnya sama dengan tema
pada tari Bedhaya Sanga, yaitu menggambarkan pertikaian antara dua hal
yang bertentangan antara baik dengan buruk, antara benar dan salah antara
akal manusia dan nafsu manusia.
TARI BEDHAYA ANGLIR MENDHUNG
Menrut kepercayaan versi kraton
Surakarta Hadiningrat tari ini merupakan ciptaan Kanjeng Panembahan Senopati
dan Kanjeng Ratu Kidul ( kanjeng Ratu kencana Sari ) Anggapan ini bersumber
dari kraton Surakarta Hadiningrat . tari srimpi sebagai hadiah berdirinya
ibukota Mataram setelah peleret pindah.
Jumlah penari bedhaya ini disesuaikan dengan bedhaya
Ka-sapta pada zaman hendran. Artinya tujuh penariremaja bibar pinjung ( remaja
putrid yang berusia 18 tahun keatas ) . Sejak Sultan Agung Prabu Hanyakrakusuma
sampai dengan Paku Buwana III ini tidak pernah dipergelarkan . Pada zaman
Susuhunan Paku Buwana IV di Surakarta mulai bedhaya diingatkan adanya daya
keramat bedhaya srimpi Anglirmendhung . Maka dalam pementasan Bedhaya Anglir
mendhung seluruh sesajidan beberapa pantangan tidak boleh terlupakan . hal ini
demi keselamatan Pada Zaman Susuhunan Paku Buwana V pernah mengubah jumlah
penaridari tujuh menjadi empat penari putrid remaja ,dengan alasan keselamatan.
Itupunhanya terselenggara sekalilengkap dengan segala sesaji Pada masa Paku
Buana VI danVII, srimpi tersebut tidak pernah digelarkan.. Baru pada zaman Paku
Buwana VIII jumlah penari srimpi tersebut dikembalikan menjadi tujuh remaja
putri. Tetapi mulai Pakubuwana IX penari ditetapkan menjadi empat orang dengan
catatan : hanya digelarkan pada saat dibutuhkan . menurut osiking sasmita.Bisikan
Kalbu, Dengandemikian Srimpi Anglirmendhung bagi kraton Surakarta hanya
diselenggarakn sebagaipendorong sugesti Hal-hal yang dapat diketahui dalam
tarian ini meliputi :bunyi lkalaimat pada cakepan kalimatyang mengingatkan
kepada tata cara dan tujuan mangestiseorang raja . Adapun sesaji dan kukusing (
asap) dupa tidakkah diabaikan sedangkan nama gending sebagai pengiringnya
ialah; Gending Srimpi anglirMendung, Kethuk Kalih Kerep, MinggahKetawang
Gending Kemanak , Suwuk,BukaSri Narendra, Dhawah Ketawang Lengen –gita,pelog
pathet Barang.
Jumat, 11 November 2011
kontingen kulon progo
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Dalam festival sendratari tahun
ini mengambil tema Ramayana. Kaladuk nafsu merupakan judul tari yang
dipertunjukkan oleh kontingen kabupaten Kulon Progo.
Kaladuk nafsu menceritakan
tentang ambisi Mahesosuro yang ingin mendapatkan Dewi Tara. Dia beranggapan
bahwa dirinya adalah yang paling berkuasa, merasa paling sempurna. Namun di
sisi lain Sugriwa dan Subali juga berkeinginan untuk memiliki Dewi Tara. Pada
awalnya Sugriwa dan Subali tidak kenal satu sama lain bahwa mereka adalah
saudara. Dan di antara mereka berdua terjadi peperangan. Tapi pada akhirnya
mereka sadar bahwa mereka adalah saudara. Mereka bersatu untuk melawan
Mahesosuro, akhirnya Subali perang dengan Mahesosuro di dalam Goa.
Sebelum perang Sugriwa dan
Subali mengadakan suatu perjanjian yaitu apabila darah keluar dari Goa berwarna
merah berarti Subali menang, sedangkan apabila darah yang keluar dari Goa itu
putih maka Subali kalah dan Subali harus menutup pintu Goa tersebut. Pada
kenyaatannya dari dalam Goa mengalir cairan putih yang disangka Sugriwa adalah
darah Subali dan Sugriwa menutup pintu Goa tersebut, namun ternyata yang
mengalir adalah otak dari Mahesosuro. Akhirnya Subali marah kepada Sugriwa.
Selasa, 18 Oktober 2011
Dance Golek Menak Yogyakarta
Find Menak dance is one of the classical dance style of Yogyakarta, which was created by Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Find a dance creation Menak originated from the idea after watching the show Puppet sultan Golek Menak performed by a puppeteer from Kedu region in 1941. Called also Beksa Golek Menak, or Beksan Menak. Implies Menak Golek puppet dance.
Because the Puppet People love the culture of Sri Sultan is planning to create a dance show featuring the puppet people. To implement the idea that the Sultan in 1941 called dance experts led by KRT Purbaningrat, assisted by K.R.T. Brongtodiningrat, Prince Suryobrongto, K.R.T. Madukusumo, K.R.T. Wiradipraja, KRTMertodipuro, RW Hendramardawa, RB and RW Larassumbaga Kuswaraga. The process of creation and training to carry out his ideas take a while. Inaugural show held at the Palace in 1943 to commemorate the birthday of the sultan. The shape is still not perfect, because fashion is still in a dress rehearsal. The first results from the creation of the sovereign is capable of displaying three character types are:
Because the Puppet People love the culture of Sri Sultan is planning to create a dance show featuring the puppet people. To implement the idea that the Sultan in 1941 called dance experts led by KRT Purbaningrat, assisted by K.R.T. Brongtodiningrat, Prince Suryobrongto, K.R.T. Madukusumo, K.R.T. Wiradipraja, KRTMertodipuro, RW Hendramardawa, RB and RW Larassumbaga Kuswaraga. The process of creation and training to carry out his ideas take a while. Inaugural show held at the Palace in 1943 to commemorate the birthday of the sultan. The shape is still not perfect, because fashion is still in a dress rehearsal. The first results from the creation of the sovereign is capable of displaying three character types are:
• the type of character for the daughter of Goddess and Goddess Sudarawerti Sirtupelaeli,
• the type of character to Raden Maktal fine sons,
• the type of manly character to King Dirgamaruta Three types of characters are displayed in the form of two beksan, the war between the goddess Dewi Sirtupelaeli Sudarawerti fight, and fight the war between King Dirgamaruta Raden Maktal. Through meetings, dialogues and gatherings between the sultan with the artists and artist, then the sultan Hamengku Buwana IX form a team Find a Menak falsifies Yogyakarta style dances. The team consists of six institutions, namely: Siswo Among Beksa, Bagong Kussudiardja Dance Training Centre, High School Karawitan Indonesia (ISMS), Mardawa Culture, and Society of Surya Kencana Indonesian Arts Institute (ISI). Sixth institute after declaring its ability to refine dance Golek Menak (June 1, 1988), then enter the respective workshops institution, by displaying the results garapannya. Falls on the first turn Beksa Among students on July 2, 1988. Workshop organized by the leadership of RM Beksa Among Siwa Dinusatama play begins with the fragment performances kelaswara, with a display 12 character types, namely:
1. Alus impur (figure Maktal, Ruslan and Jayakusuma),
2. Alus impur (figure Jayengrana),
3. The flow loop be all white (Perganji),
4. Stout prop be all white (Kewusnendar, Tamtanus, Kelangjajali, Nursewan and Elephant Biher),
5. Dashing kambeng (Lamdahur),
6. Dashing Bapang (figure Umarmaya),
7. Dashing Bapang (Umarmadi and Bestak),
8. Raseksa (Jamum),
9. Princess (Princess Adaninggar China),
10. Princess impur (Sudarawerti and Sirtupelaeli),
11. Daughter be all white (Ambarsirat, Tasik Wulan lungit Manik, and class wara),
12. Raseksi (mardawa and Mardawi).
eg in a marvelous daughter dance following the example image
• the type of character to Raden Maktal fine sons,
• the type of manly character to King Dirgamaruta Three types of characters are displayed in the form of two beksan, the war between the goddess Dewi Sirtupelaeli Sudarawerti fight, and fight the war between King Dirgamaruta Raden Maktal. Through meetings, dialogues and gatherings between the sultan with the artists and artist, then the sultan Hamengku Buwana IX form a team Find a Menak falsifies Yogyakarta style dances. The team consists of six institutions, namely: Siswo Among Beksa, Bagong Kussudiardja Dance Training Centre, High School Karawitan Indonesia (ISMS), Mardawa Culture, and Society of Surya Kencana Indonesian Arts Institute (ISI). Sixth institute after declaring its ability to refine dance Golek Menak (June 1, 1988), then enter the respective workshops institution, by displaying the results garapannya. Falls on the first turn Beksa Among students on July 2, 1988. Workshop organized by the leadership of RM Beksa Among Siwa Dinusatama play begins with the fragment performances kelaswara, with a display 12 character types, namely:
1. Alus impur (figure Maktal, Ruslan and Jayakusuma),
2. Alus impur (figure Jayengrana),
3. The flow loop be all white (Perganji),
4. Stout prop be all white (Kewusnendar, Tamtanus, Kelangjajali, Nursewan and Elephant Biher),
5. Dashing kambeng (Lamdahur),
6. Dashing Bapang (figure Umarmaya),
7. Dashing Bapang (Umarmadi and Bestak),
8. Raseksa (Jamum),
9. Princess (Princess Adaninggar China),
10. Princess impur (Sudarawerti and Sirtupelaeli),
11. Daughter be all white (Ambarsirat, Tasik Wulan lungit Manik, and class wara),
12. Raseksi (mardawa and Mardawi).
eg in a marvelous daughter dance following the example image
Dance Reyog Wayang Kridha Beksa Lumaksana
Atemo never attended one of the traditional art Reyog Udeng Gilik in Hamlet Village Celan Trimurti, Srandakan district, Bantul regency. Art Reyog Udeng this Gilik created by a Yogyakarta palace courtiers who resides in Hamlet Celan. Art Reyog Udeng Gilik tells about the courage of a soldier who was fighting palace. After attending art Reyog Udeng Gilik Atemo that Mr Rono had the idea to create a traditional art in Hamlet Mangiran named Puppet Reyog traditional arts. Mr. Rono Atemo create this art serves not only to entertain people, but also to enliven the harvest time comes.
According to Mr. Adi a dancer as well as the elder Hamlet Mangiran, Reyog Puppet illustrates two rows of soldiers who will go to war. The number of dancers on Reyog Puppet is approximately 24 people, while the character is taken from the Ramayana and the Mahabharata story (interview, March 9, 2010). Figures - puppet figures are taken from the Ramayana story is Janaka - Cakil, (red monkey) - Buto, (blue monkey) - Buto, (green monkey) - Buto, (yellow monkey) - Buto, Hanuman - Kumbakarna. The figures - figures taken from the Mahabharata fiber is Burisrawa - Sentyaki, Ghatotkacha - Suteja, Antareja - Balarama. Grooming and clothing used in Puppet Reyog are similar to those worn in wayang wong. Rows in Reyog Puppet is equipped with Batak as pengarep figures, two figures penurung banner as the flag bearer and carrier of red and white flag, as well as four dancers carry banners. Figures Penthul Bejer although not included in the ranks but its existence is very important, because it serves to bring the song as a stuffing of dhodhog accompaniment. Reyog Art Wayang puppet tells of the battle scenes. Puppet Art Reyog this, first in the show is done by ditanggap nanggap / mbarang, or with a run to move - move from house to house offering to the people who wanted perceive the art. Place this Wayang performances Reyog done anywhere and anytime. For example in the field, on the home page, or customize the site as you wish.
The number of dancers can be reduced or increased according to need, the most important in this Puppet Reyog no main character or Pengarep Batak. Pengarep role in addition to leading the movement as well as leaders in the movement pattern of the floor.Direction of the floor patterns that the dancers will go through depends on the agreement between Pengarep Pengarep right and left.
b. Year period 1982 - 1986 (Phase 2)
Puppet Art Reyog this was down for the year 1980 - 1982, this happens because the dancers and arts leaders are working to find money for the necessities of life. There is work to earn money outside of Java and outside the city of Yogyakarta. However, in 1982 Reyog Puppet is raised again to entertain the local community led by Mr. Bandi (late), with Mr. Jasum Hadisunarno builder. Initiative to perform a re-Reyog Puppet, because the initiative of the former dancer and a former board, namely Mr. Pawiro and Mr. Adi. The form of presentation as it used no renewal until 1986.
c. The period 1986 - 2010 (Phase 3)
In 1986 the traditional art Reyog Puppet experienced leadership turnover, Mr. Warsito A. Md, a resident of the Hamlet Mangiran. Warsito father was a teacher of dance and performing arts in the musical art of the ISMS (High School Karawitan Indonesia). in 1986 this is the art Reyog Wayang Puppet Reyog named "Kridha Beksa Lumaksana". The name comes from Kridha Beksa Lumaksana Warsito personal inspiration. The name has a meaning Kridha Beksa Lumaksana Kridha means moving, Beksa means dancing, Lumaksana means walking. So, Kridha Beksa Lumaksana is a walking dance movements. Since having a name Reyog Puppet Kridha Beksa Lumaksana the traditional arts Reyog Puppet began gradually - gradually make progress in terms of form of presentation. This is meant to be better known and liked by the people in both communities in Hamlet Mangiran and Society in Yogyakarta in general. Since having the name, the traditional art Reyog Puppet Kridha Beksa Lumaksana often get the job / response.
According to Mr. Adi a dancer as well as the elder Hamlet Mangiran, Reyog Puppet illustrates two rows of soldiers who will go to war. The number of dancers on Reyog Puppet is approximately 24 people, while the character is taken from the Ramayana and the Mahabharata story (interview, March 9, 2010). Figures - puppet figures are taken from the Ramayana story is Janaka - Cakil, (red monkey) - Buto, (blue monkey) - Buto, (green monkey) - Buto, (yellow monkey) - Buto, Hanuman - Kumbakarna. The figures - figures taken from the Mahabharata fiber is Burisrawa - Sentyaki, Ghatotkacha - Suteja, Antareja - Balarama. Grooming and clothing used in Puppet Reyog are similar to those worn in wayang wong. Rows in Reyog Puppet is equipped with Batak as pengarep figures, two figures penurung banner as the flag bearer and carrier of red and white flag, as well as four dancers carry banners. Figures Penthul Bejer although not included in the ranks but its existence is very important, because it serves to bring the song as a stuffing of dhodhog accompaniment. Reyog Art Wayang puppet tells of the battle scenes. Puppet Art Reyog this, first in the show is done by ditanggap nanggap / mbarang, or with a run to move - move from house to house offering to the people who wanted perceive the art. Place this Wayang performances Reyog done anywhere and anytime. For example in the field, on the home page, or customize the site as you wish.
The number of dancers can be reduced or increased according to need, the most important in this Puppet Reyog no main character or Pengarep Batak. Pengarep role in addition to leading the movement as well as leaders in the movement pattern of the floor.Direction of the floor patterns that the dancers will go through depends on the agreement between Pengarep Pengarep right and left.
b. Year period 1982 - 1986 (Phase 2)
Puppet Art Reyog this was down for the year 1980 - 1982, this happens because the dancers and arts leaders are working to find money for the necessities of life. There is work to earn money outside of Java and outside the city of Yogyakarta. However, in 1982 Reyog Puppet is raised again to entertain the local community led by Mr. Bandi (late), with Mr. Jasum Hadisunarno builder. Initiative to perform a re-Reyog Puppet, because the initiative of the former dancer and a former board, namely Mr. Pawiro and Mr. Adi. The form of presentation as it used no renewal until 1986.
c. The period 1986 - 2010 (Phase 3)
In 1986 the traditional art Reyog Puppet experienced leadership turnover, Mr. Warsito A. Md, a resident of the Hamlet Mangiran. Warsito father was a teacher of dance and performing arts in the musical art of the ISMS (High School Karawitan Indonesia). in 1986 this is the art Reyog Wayang Puppet Reyog named "Kridha Beksa Lumaksana". The name comes from Kridha Beksa Lumaksana Warsito personal inspiration. The name has a meaning Kridha Beksa Lumaksana Kridha means moving, Beksa means dancing, Lumaksana means walking. So, Kridha Beksa Lumaksana is a walking dance movements. Since having a name Reyog Puppet Kridha Beksa Lumaksana the traditional arts Reyog Puppet began gradually - gradually make progress in terms of form of presentation. This is meant to be better known and liked by the people in both communities in Hamlet Mangiran and Society in Yogyakarta in general. Since having the name, the traditional art Reyog Puppet Kridha Beksa Lumaksana often get the job / response.
Legong Dance
Legong classical dance is a dance of Bali which has a very complex movement vocabulary that is bound to the structure of percussion accompaniment that is said is the influence Gambuh propagators. Legong developed in royal-palace of Bali in the 19th century the second half. Legong dance is still closely connected with religion, both in terms of both history and spectacle.
No one had ever come across the word Legong in ancient records. Presumably the word comes from the word Legong Leg, which means that luwe dance movement or bending which is the principal characteristic of the Legong dance. The Gong means retinue means gamelan instruments. Thus implies Legong dance movement that is bound by the gamelan mengirinya.
According to the Chronicle Dalem Sukawati, an old history Sukawati village, Legong dance was created by a dream I Dewa Agung Made Karna, the king who reigned in 1775-1825 Sukawati M. I Dewa Agung Made Karna was doing penance in a temple near the village Jogan Supreme Ketewel Sukawati. In their meditation he dreamed of seeing fairies are dancing in heaven. They danced with a beautiful dress and wearing a gold headdress.
When aware of the dream, I Dewa Agung Made Karna ordered the Bendesa ketewel to make some toppeng and create dance that is similar to the dream. Not long after that Bendesa Ketewel managed to make nine fruit mask diragakan by two of the dancers now wear hyang and choreography that has been alleged to have been invented at that time.
In Legong dance movement motif is geared towards Gambuh basic dance movement, which indeed has had a strict etiquette to dance. Contained in the palm Panititaling Gambuh, namely on the basics of dance namely:
a. Agem, poisis basic motion that depends on the role. Then Abah Badminton, agem transition from one movement to another agem.
b. Away, ie, how to walk and the movement of the dancer, here will be known motifs such motion ngelikas, nyeleog, nyelendro, nyeregseg.
c. Tangkep, which contains all the basics of expressions, ranging from eye movements, there is such thing as dedeling, sweet carengu, girah, nredeh and rules also include a fan-like nyekel, nyingkel and ngaliput.
Characteristics that are very strong in the dance Legong dancers are eye movements that make the dance come alive with the expression of a very wowed by the dancers.
Legong dance structure is:
a. Special: pepeson, Bapang, ngengkong, ngaras, pepeson muanin oleg and ngipuk.
b. General: papeson, pangawak, pengecet and pakaad.
c. Typical fashion Legong is a brightly colored (red, green, purple) with paintings of leaves and flowers of gold ornaments head that sway to every movement and vibration
Typical fashion Legong is a brightly colored (red, green, purple) with paintings of leaves and flowers of gold ornaments head swaying and vibration following each movement of the dancer's shoulder simplified by the dominance of black and white.
There are several kinds of Legong, namely:
a. Legong Kraton
b. Legong Jobog
c. Legong Legod Bring
d. Legong Heron
e. Legong Andir (Nadir)
f. Legong Mask
Gamelan is used to accompany dance Legong is Semar Pangulingan gamelan. Balinese people know there are two kinds of Semar Pangulingan:
a. Semar Pangulingan barrel pelog 7 tone
b. Semar Pangulingan barrel pelog 5 tones.
Instruments are: Trompong with 12 pencon, Gender vines bladed 14, Gangsa Barungan bladed 14, Gangsa pemande hanger, hanger gangsa magnolia, jegongan, respectively jublag bladed 7, small drums, kajar, kleneng, kempur (small gong), ricik , gentorag, fiddle, and flute.
TARI SRIMPI RENGGOWATI
Tari srimpi renggowati di ciptakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono V, pada Tahun 1823-1855. Dengan Jumlah Penari 5 (lima ) orang putri. Dan menggnakan property Boneka Burung Belibis.
Riuh rendah masyarakat memenuhi bagian luar maupun dalam Istana Pura Paku Alaman Yogyakarta. Biasanya, kerumunan orang hanya berpusat di luar atau bagian Alun-Alun kraton yang di malam hari dipenuhi warung lesehan. Cukup dengan segelas kopi atau jahe panas, di sana orang-orang bisa bertahan ngobrol berjam-jam lamanya. Minum, ngobrol dan makan nasi kucing. Ketiganya adalah perpaduan istimewa untuk menikmati Yogyakarta.
Malam itu Pura Paku Alaman menggelar pertunjukan tari klasik gaya Yogyakarta. Jelas! Rujukan pertunjukan ini berasal dari tata cara baku di lingkungan istana. Sementara itu, pada sore harinya, sejumlah kesenian rakyat dipertunjukkan di halaman keraton yang sering disebut sebagai Alun-Alun Sewandanan. Demikian, acara digelar selama tiga hari berturut-turut. Terselenggara atas kerjasama Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta dengan dua keraton yang ada di Jogja, yaitu Kasultanan dan Paku Alaman.
Repertoir klasik di hari pertama adalah Tari Srimpi Renggawati. Ditarikan oleh lima orang penari, dimana salah satunya berperan sebagai Dewi Renggawati. Alkisah, sang Dewi menemukan seekor meliwis putih yang tak lain dan tak bukan adalah jelmaan Prabu Angling Darma. Adapun Dewi Renggawati sendiri pada dasarnya adalah titisan Dewi Setyawati--permaisuri Sang Prabu. Alhasil, perjumpaan keduanya menghadirkan nuansa syahdu yang menghanyutkan. Belum lagi iringan tari tersebut yang mengalun dengan tempo lambat. Semuanya menghadirkan nuansa batin yang sangat mengharukan.
Di hari kedua, komposisi yang ditampilkan adalah drama tari berjudul Banjaransari dan wayang orang berlatar belakang Ramayana. Sekilas kesan di hari kedua adalah unsur kolosal. Tampil dalam pertunjukan tersebut penari-penari pria dan wanita baik yang senior maupun yang masih muda belia. Sebagai penutup di hari ketiga, yang ditampilkan adalah Tari Bedhaya Angron Akung yang dibawakan oleh tujuh orang penari wanita. Seolah menguatkan posisinya sebagai kasta tertinggi dalam jenis tarian jawa, repertoir tersebut hadir dengan iringan dan busana serba mengesankan.
Mengamati satu per satu tari-tari klasik gaya Yogyakarta, perlahan mulai tampak perbedaannya dengan gaya Surakarta yang saya saksikan beberapa saat lalu. Dalam hal gerakan tangan, tari klasik gaya Yogyakarta dominan dengan melipat ibu jari dan membiarkan empat jemari lainnya terbuka rapat. Sementara itu jari tangan yang lainnya akan dirapatkan antara telunjuk dengan ibu jari sehingga membentuk gelungan tangan yang terlihat lentik. Gerakan tersebut hadir dalam jenis tari putri maupun tari putra. Sekilas kesan yang di dapat tidak hanya lentik tetapi juga tegas. Sebuah kombinasi antara kekuatan dan kelembutan.
Dari segi kostum, penampilan tari klasik gaya Yogyakarta terlihat lebih sederhana, tidak mengumbar warna-warni kain maupun kilau kemilau perhiasan emas. Orang awam pasti bisa melihat perbedaan antara busana tari klasik dengan kostum "wayang jawa" yang biasa muncul di televisi. Ada kesamaan bentuk, akan tetapi detil dan ragam hiasnya berbeda.
Melihat apa yang muncul baik itu dari sisi gerakan maupun pakaiannya, tari klasik gaya Yogyakarta hadir dengan identitas tertentu diantara tari jawa pada umumnya. Melihat ke belakang, hal ini sangat lazim mengingat lahirnya keraton itu sendiri yang merupakan pecahan dari Dinasti Mataram Islam yang sebelumnya berpusat di Surakarta. Ibarat saudara muda yang membentuk identitas, tentu saja tidak mau sama dengan saudara tuanya. Melihatnya pada era sekarang atau mungkin juga nanti, nuansa kelembutan, kekuatan, dan kesederhanaan yang muncul dalam pertunjukan tari klasik ibarat harapan agar unsur tersebut selalu ada pada Yogyakarta yang istimewa.
Mengisahkan perjalanan Prabu Anglingdarmo saat mencari titising Dewi Setyawati. Sampai di Bojonegoro ia bertemu dengan Dewi Renggowati. Pada saat itu Prabu Anglingdarmo telah berubah wujud jadi burung "Meliwis putih". Tidak disadari bahwa Dewi Renggowati adalah dewi Setyawati yang sedang dicari Prabu Anglingdarmo. Pertemuan inilah yang menjadi simbolisasi pertemuan Prabu Anglingdarmo dengan Dewi Setyawati
2. Tata Pakaian :
a. Hiasan Kepala dengan jamang
b. Telinga dengan Ron
c. Cundhuk Menthul
d. Cundhuk Jungkat
e. Risolin
f. Pelik dari kertas dan ketep
g. Ceplok, jebehan
h. Kondhe dengan bentuk gelung Bokor
i. Godhegan
j. Kalung susun
k. Kelat bahu
l. Gelang kana 1 (satu) pasang
m. Subang 1 ( satu) pasang
n. Cincin
o. Baju tanpa lengan dari bahan beludru
p. Sondher (sampur ) Cindhe
q. Slepe berwarna emas
r. Keris bentuk branggah dengan Oncen
s. Kain batik biasanya bercorak Parang Rusak
Tata Iringan :
a. Gendhing Ladrangan atau sabrangan
b. Kendhangan Soroyudo
c. Ketawang , ayak-ayak srepegan
Riuh rendah masyarakat memenuhi bagian luar maupun dalam Istana Pura Paku Alaman Yogyakarta. Biasanya, kerumunan orang hanya berpusat di luar atau bagian Alun-Alun kraton yang di malam hari dipenuhi warung lesehan. Cukup dengan segelas kopi atau jahe panas, di sana orang-orang bisa bertahan ngobrol berjam-jam lamanya. Minum, ngobrol dan makan nasi kucing. Ketiganya adalah perpaduan istimewa untuk menikmati Yogyakarta.
Malam itu Pura Paku Alaman menggelar pertunjukan tari klasik gaya Yogyakarta. Jelas! Rujukan pertunjukan ini berasal dari tata cara baku di lingkungan istana. Sementara itu, pada sore harinya, sejumlah kesenian rakyat dipertunjukkan di halaman keraton yang sering disebut sebagai Alun-Alun Sewandanan. Demikian, acara digelar selama tiga hari berturut-turut. Terselenggara atas kerjasama Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta dengan dua keraton yang ada di Jogja, yaitu Kasultanan dan Paku Alaman.
Repertoir klasik di hari pertama adalah Tari Srimpi Renggawati. Ditarikan oleh lima orang penari, dimana salah satunya berperan sebagai Dewi Renggawati. Alkisah, sang Dewi menemukan seekor meliwis putih yang tak lain dan tak bukan adalah jelmaan Prabu Angling Darma. Adapun Dewi Renggawati sendiri pada dasarnya adalah titisan Dewi Setyawati--permaisuri Sang Prabu. Alhasil, perjumpaan keduanya menghadirkan nuansa syahdu yang menghanyutkan. Belum lagi iringan tari tersebut yang mengalun dengan tempo lambat. Semuanya menghadirkan nuansa batin yang sangat mengharukan.
Di hari kedua, komposisi yang ditampilkan adalah drama tari berjudul Banjaransari dan wayang orang berlatar belakang Ramayana. Sekilas kesan di hari kedua adalah unsur kolosal. Tampil dalam pertunjukan tersebut penari-penari pria dan wanita baik yang senior maupun yang masih muda belia. Sebagai penutup di hari ketiga, yang ditampilkan adalah Tari Bedhaya Angron Akung yang dibawakan oleh tujuh orang penari wanita. Seolah menguatkan posisinya sebagai kasta tertinggi dalam jenis tarian jawa, repertoir tersebut hadir dengan iringan dan busana serba mengesankan.
Mengamati satu per satu tari-tari klasik gaya Yogyakarta, perlahan mulai tampak perbedaannya dengan gaya Surakarta yang saya saksikan beberapa saat lalu. Dalam hal gerakan tangan, tari klasik gaya Yogyakarta dominan dengan melipat ibu jari dan membiarkan empat jemari lainnya terbuka rapat. Sementara itu jari tangan yang lainnya akan dirapatkan antara telunjuk dengan ibu jari sehingga membentuk gelungan tangan yang terlihat lentik. Gerakan tersebut hadir dalam jenis tari putri maupun tari putra. Sekilas kesan yang di dapat tidak hanya lentik tetapi juga tegas. Sebuah kombinasi antara kekuatan dan kelembutan.
Dari segi kostum, penampilan tari klasik gaya Yogyakarta terlihat lebih sederhana, tidak mengumbar warna-warni kain maupun kilau kemilau perhiasan emas. Orang awam pasti bisa melihat perbedaan antara busana tari klasik dengan kostum "wayang jawa" yang biasa muncul di televisi. Ada kesamaan bentuk, akan tetapi detil dan ragam hiasnya berbeda.
Melihat apa yang muncul baik itu dari sisi gerakan maupun pakaiannya, tari klasik gaya Yogyakarta hadir dengan identitas tertentu diantara tari jawa pada umumnya. Melihat ke belakang, hal ini sangat lazim mengingat lahirnya keraton itu sendiri yang merupakan pecahan dari Dinasti Mataram Islam yang sebelumnya berpusat di Surakarta. Ibarat saudara muda yang membentuk identitas, tentu saja tidak mau sama dengan saudara tuanya. Melihatnya pada era sekarang atau mungkin juga nanti, nuansa kelembutan, kekuatan, dan kesederhanaan yang muncul dalam pertunjukan tari klasik ibarat harapan agar unsur tersebut selalu ada pada Yogyakarta yang istimewa.
Mengisahkan perjalanan Prabu Anglingdarmo saat mencari titising Dewi Setyawati. Sampai di Bojonegoro ia bertemu dengan Dewi Renggowati. Pada saat itu Prabu Anglingdarmo telah berubah wujud jadi burung "Meliwis putih". Tidak disadari bahwa Dewi Renggowati adalah dewi Setyawati yang sedang dicari Prabu Anglingdarmo. Pertemuan inilah yang menjadi simbolisasi pertemuan Prabu Anglingdarmo dengan Dewi Setyawati
2. Tata Pakaian :
a. Hiasan Kepala dengan jamang
b. Telinga dengan Ron
c. Cundhuk Menthul
d. Cundhuk Jungkat
e. Risolin
f. Pelik dari kertas dan ketep
g. Ceplok, jebehan
h. Kondhe dengan bentuk gelung Bokor
i. Godhegan
j. Kalung susun
k. Kelat bahu
l. Gelang kana 1 (satu) pasang
m. Subang 1 ( satu) pasang
n. Cincin
o. Baju tanpa lengan dari bahan beludru
p. Sondher (sampur ) Cindhe
q. Slepe berwarna emas
r. Keris bentuk branggah dengan Oncen
s. Kain batik biasanya bercorak Parang Rusak
Tata Iringan :
a. Gendhing Ladrangan atau sabrangan
b. Kendhangan Soroyudo
c. Ketawang , ayak-ayak srepegan
REOG PONOROGO
Reog merupakan salah satu kesenian budaya yang berasal dari Jawa Timur bagian barat laut dan kota asal Reog yang sebenarnya yaitu Ponorogo. Reog juga merupakan salah satu budaya daerah di Indonesia yang masih sangat kental dengan hal-hal yang berbau mistis dan ilmu kebatinan yang kuat. Pertunjukan reog di ponorogo di mulai pada tahun 1920.
Cerita pemberontakan Ki Ageng Kutu, seorang abdi kerajaan pada masa Bhre Kertabhumi, Raja Majapahit terakhir yang berkuasa pada abad ke-15. Ki ageng Kutu murka akan pengaruh kuat dari rekan Cina rajanya dalam pemerintahan dan perilaku raja yang korup. Ia lalu meninggalkan sang raja dan mendirikan perguruan dimana ia mengajar anak-anak muda seni bela diri, ilmu kekebalan diri, dan ilmu kesempurnaan dengan harapan bahwa anak-anak muda ini akan menjadi bibit dari kebangkitan lagi kerajaan Majapahit kelak. Dengan minimnya pasukan jadi membuat suatu pementasan Reog, itu merupakan “sindiran” kepada Raja Bra Kertabumi dan kerajaannya. Pagelaran Reog menjadi cara Ki Ageng Kutu membangun perlawanan masyarakat usic menggunakan kepopuleran Reog. Dalam pertunjukan Reog ditampilkan topeng berbentuk kepala singa yang dikenal sebagai “Singa Barong”, raja hutan yang menjadi usic untuk Kertabumi, dan diatasnya ditancapkan bulu-bulu merak hingga menyerupai kipas raksasa yang menyimbolkan pengaruh kuat para rekan Cinanya yang mengatur dari atas segala gerak-geriknya. Jatilan, yang diperankan oleh kelompok penari gemblak (penari laki-laki) yang sekarang dinamakan jatilan (penari perempuan) menunggangi kuda-kudaan menjadi usic kekuatan pasukan Kerajaan Majapahit yang menjadi perbandingan kontras dengan kekuatan warok, yang berada dibalik topeng badut merah yang menjadi usic untuk Ki Ageng Kutu, sendirian dan menopang berat topeng singabarong yang mencapai lebih dari 50kg hanya dengan menggunakan giginya. Populernya Reog Ki Ageng Kutu akhirnya menyebabkan Kertabumi mengambil tindakan dan menyerang perguruannya, pemberontakan oleh warok dengan cepat diatasi, dan perguruan dilarang untuk melanjutkan pengajaran akan warok. Namun murid-murid Ki Ageng kutu tetap melanjutkannya secara diam-diam. Walaupun begitu, kesenian Reognya sendiri masih diperbolehkan untuk dipentaskan karena sudah menjadi pertunjukan usic diantara masyarakat, namun jalan ceritanya memiliki alur baru dimana ditambahkan karakter-karakter dari cerita rakyat Ponorogo yaitu Kelono Sewondono, Dewi Songgolangit, and Sri Genthayu.
Alur cerita Reog Ponorogo kini adalah cerita tentang Raja Ponorogo yang berniat melamar usic Kediri, Dewi Ragil Kuning, namun ditengah perjalanan ia dicegat oleh Raja Singabarong dari Kediri. Pasukan Raja Singabarong terdiri dari merak dan singa, sedangkan dari pihak Kerajaan Ponorogo Raja Kelono dan Wakilnya Bujanganom, dikawal oleh warok (pria berpakaian hitam-hitam dalam tariannya), dan warok disini memiliki ilmu hitam mematikan. Seluruh tariannya merupakan tarian perang antara Kerajaan Kediri dan Kerajaan Ponorogo, dan mengadu ilmu hitam antara keduanya, para penari dalam keadaan “kerasukan” saat mementaskan tariannya.
Hingga kini masyarakat Ponorogo hanya mengikuti apa yang menjadi warisan leluhur mereka sebagai pewarisan budaya yang sangat kaya. Upacaranya pun menggunakan syarat-syarat yang tidak mudah bagi orang awam untuk memenuhinya tanpa adanya garis keturunan yang jelas. Mereka menganut garis keturunan Parental dan usic adat yang masih berlaku.
2. Stuktur Pertunjukan
Perangkat musik reog sederhana, Irama melodi anehnya berasal dari bunyi terompet khusus yang disebut salompret bernada pelog diiringi rampak ketipung, kendang, ketuk, kenong, gong serta angklung yang bernada slendro. Nada-nada sumbang yang dihasilkan, yang merupakan panduan antara laras slendro dan pelog, menghasilkan suasanan mistik, aneh, sekaligus mempesona. Iramanya yang dinamis dan bergelora sangat mudah mengundang penonton untuk berkumpul. Pakaian pemain reog serba hitam dengan ikat kepala yang disebut udeng. Bajunya berwarna hitam, longgar, tidak bercorak dan dipakai tanpa mengaitkan kancingnya sehingga dada pemakainya tampak jelas. Celananya yang sangat longgar juga berwarna hitam : panjangnya hanya sampai di bawah lutut. Celana ini dilengkapi ikat pinggang (koloran) berwarna putih. Dalam iring-iringan pertunjukan, reog ponorogo biasanya terbagi dalam beberapa kelompok. Kekuatan pertunjukannya terletak pada pembagian kelompok yang masing-masing memilki fungsi sendiri tetapi saling melengkapi.
Kelompok pertama adalah kelompok pengawal atau kelompok pembuka, kelompok dengan sikap garang dan angkuh yang terdiri atas 3 sampai 4 orang bercelana panjang longgar hitam dengan kaus bergaris merah hitam; Kelompok pendamping bertugas mengamankan situasi dan biasanya berada di sisi kanan kiri rombongan; Kelompok penari terdiri atas pemain barongan, pemain topeng, penari kuda kepang, serta penari dan pemain cadangan; Kelompok pemukul gamelan yang lazimnya berada di belakang para penari terdiri atas peniup terompet, pemukul gendong dan gong, pemusik angklung, pemukul, ketuk kenong, pemukul ketipung serta 2 orang pemikul dan pemukul kempul, dan kelompok penggiring yang merupakan kelompok terbesar biasanya berada paling belakang untuk ikut menari, menyanyi dan bersorak sorai menghidupkan suasana.
Ada 3 pelengkap utama yang biasanya menyertai pertunjukan reog yakni:
1. Barongan yang melambangkan harimau dan dhadhak merak yang melambangkan burung merak.
2. Topeng.
3. Kuda kepang yang melambangkan binatang piaraan tunggangan manusia.
Ketiganya melambangkan karakter yang berbeda. Barongan dan dhadhak merak, yang selalu berpasangan sangat tenang, berwibawa meskipun angkuh. Singa bermahkota merak yang merupakan pasangan harimau dan merak menjadi usic khas reog. Topeng yang selalu dikenakan bujangganong yang pandai berakrobat menimbulkan kesan lucu dengan geraknya yang lincah. Namun bila kuda kepang mulai beraksi, pertunjukan mulai menyeramkan karena music magisnya meskipun gaya kuda kepang ini cukup lunak dengan usic mempesona yang memikat penonton. Sebagai sosok satria berkuda, penunggang kuda kepangnya diperankan oleh seorang anak laki-laki beraut manis yang disebut jatilan.
Dalam reog walaupun melambangkan sifat dan lakon yang berbeda-beda, barongan dan dhadhak merak yang tingginya mencapai 3 meter dalam wujudnya adalah satu. Keduanya berwujud kepala harimau dengan mahkota ekor merak yang bobotnya mencapai 70 kg ini lazimnya dipakai di kepala pemain dengan cara digigit. Tetapi dalam permainan kucing tikus untuk mengurangi bobotnya, ekor merak yang sangat lebar ini dilepas sehingga gerakan barongan menjadi lebih lincah. Topeng menjadi tikus, sedangkan barongan adalah kucingnya.
Reog ponorogo memiliki 3 wujud topeng, yakni topeng hewan, topeng manusia dan topeng raksasa. Topeng barongan adalah topeng hewan, sedangkan topeng bujangganong, topeng berwujud raksasa dengan dahi mengganong (menjorok) adalah topeng raksasa. Warna topeng raksasa ini merah tua atau hitam, matanya melotot, rambutnya panjang ke depan, serta hidungnya besar dan panjang. Yang merupakan topeng manusia adalah topeng kelono. Topeng berambut panjang ini memerankan prabu kelono sewandono. Gerak kuda kepang sangat lincah. Jatilan, penunggang kuda kepang adalah anak laki-laki, biasanya berwajah manis dan harus belum menikah. Dalam sendratari rakyat ini terdapat hubungan erat yang aneh antara pemborong (pemain barongan) dan jatilan (pemain kuda kepang yang disebut juga gemblak). Hubungan mereka mirip hubungan laki-laki dan wanita. Pemain barongan biasanya sangat kekar, kuat dan menguasai para gemblak. Dahulu tak jarang terjadi pertarungan antara satuan reog untuk memperebutkan gemblak. Karena itu jatilan biasanya selalu mendapat perlindungan khusus. Dalam iring-iringan reog, jatilan selalu berada di barisan paling depan.
3. Tokoh-tokoh dalam seni Reog
a. Barongan (Dadak Merak)
Barongan (Dadak merak) merupakan peralatan tari yang paling dominan dalam kesenian Reog Ponorogo. Bagian-bagiannya antara lain; Kepala Harimau (caplokan), terbuat dari kerangka kayu, bambu, rotan ditutup dengan kulit Harimau Gembong. Dadak merak, kerangka terbuat dari bambu dan rotan sebagai tempat menata bulu merak untuk menggambarkan seekor merak sedang mengembangkan bulunya dan menggigit untaian manik – manik (tasbih). Krakap terbuat dari kain beludru warna hitam disulam dengan monte, merupakan aksesoris dan tempat menuliskan identitas group reyog. Dadak merak ini berukuran panjang sekitar 2,25 meter, lebar sekitar 2,30 meter, dan beratnya hampir 50 kilogram.
b. Jatilan
Jathil adalah prajurit berkuda dan merupakan salah satu tokoh dalam seni Reog. Jathilan merupakan tarian yang menggambarkan ketangkasan prajurit berkuda yang sedang berlatih di atas kuda. Tarian ini dibawakan oleh penari di mana antara penari yang satu dengan yang lainnya saling berpasangan. Ketangkasan dan kepiawaian dalam berperang di atas kuda ditunjukkan dengan ekspresi atau greget penari yang lincah, terampil dan rampak.
Jathilan ini pada mulanya ditarikan oleh laki-laki yang halus, berparas ganteng atau mirip dengan wanita yang cantik. Gerak tarinya pun lebih cenderung feminin. Sejak tahun 1980-an ketika tim kesenian Reog Ponorogo hendak dikirim ke Jakarta untuk pembukaan PRJ (Pekan Raya Jakarta), penari jathilan diganti oleh para penari putri dengan alasan lebih feminin. Ciri-ciri kesan gerak tari Jathilan pada kesenian Reog Ponorogo lebih cenderung pada halus, lincah, genit. Hal ini didukung oleh pola ritmis gerak tari yang silih berganti antara irama mlaku (lugu) dan irama ngracik.
c. Bujang Ganong (Ganongan)
Bujang Ganong (Ganongan) atau Patih Pujangga Anom adalah salah satu tokoh yang enerjik, kocak, akrobatik, dan berani sekaligus mempunyai keahlian dalam seni bela diri sehingga disetiap penampilannya senantiasa di tunggu – tunggu oleh penonton khususnya anak – anak. Bujang Ganong menggambarkan sosok seorang Patih Muda yang cekatan, berkemauan keras, cerdik, jenaka dan sakti.
d. Warokan
“Warok” yang berasal dari kata wewarah adalah orang yang mempunyai tekad suci, memberikan tuntunan dan perlindungan tanpa pamrih. Warok adalah wong kang sugih wewarah (orang yang kaya akan wewarah). Artinya seseorang menjadi warok karena mampu memberi petunjuk atau pengajaran kepada orang lain tentang hidup yang baik.Warok iku wong kang wus purna saka sakabehing laku, lan wus menep ing rasa (Warok adalah orang yang sudah sempurna dalam laku hidupnya, dan sampai pada pengendapan batin).
Warok merupakan karakter/ciri khas dan jiwa masyarakat Ponorogo yang telah mendarah daging sejak dahulu yang diwariskan oleh nenek moyang kepada generasi penerus. Warok merupakan bagian peraga dari kesenian Reog yang tidak terpisahkan dengan peraga yang lain dalam unit kesenian Reog Ponorogo. Warok adalah seorang yang betul-betul menguasai ilmu baik lahir maupun batin.
e. Klono Sewandono
Klono Sewandono atau Raja Kelono adalah seorang raja sakti mandraguna yang memiliki pusaka andalan berupa Cemeti yang sangat ampuh dengan sebutan Kyai Pecut Samandiman kemana saja pergi sang Raja yang tampan dan masih muda ini selalu membawa pusaka tersebut. Kegagahan sang Raja di gambarkan dalam gerak tari yang lincah serta berwibawa, dalam suatu kisah Prabu Klono Sewandono berhasil menciptakan kesenian indah hasil dari daya ciptanya untuk menuruti permintaan Putri (kekasihnya). Karena sang Raja dalam keadaan mabuk asmara maka gerakan tarinyapun kadang menggambarkan seorang yang sedang kasmaran.
f. Pengrawit
Pemain music berjumlah kurang lebih 15 orang yang terdiri dari penabuh dan wirosworo (penyanyi).
4. Bambar gamelan-gamelan yang digunakan pada tari Reog :
a. Kendang
Kendang/Kempul standart (besar) terbuat dari bahan kayu utuh dan kulit sapi pilian Polos.
b. Kenong
Kenong terbuat dari besi bahan goong dng diameter kecil 1 set terdiri dari 2 buah.
c. Gong
Goong terbuat dari besi dengan ketebalan standart untuk menghasilkan suara sesuai irama reog 1 buah goong untuk bahan terbaik.
d. Terompet (serompet)
Tarompet, serompet, selompret adalah jenis alat usic tiup yang mempunyai 4-6 lubang nada dan bagian untuk meniupnya berbentuk corong. Seni usic tradisi yang menggunakan alat usic seperti ini adalah kesenian rakyat Tapanuli, Jawa Barat, Jawa Timur, Madura, Papua.
e. Angklung
Angklung adalah alat musik tradisional Indonesia yang berasal dari Tanah Sunda, terbuat dari bambu, yang dibunyikan dengan cara digoyangkan (bunyi disebabkan oleh benturan badan pipa bambu) sehingga menghasilkan bunyi yang bergetar dalam susunan nada 2, 3, sampai 4 nada dalam setiap ukuran, baik besar maupun kecil. Laras (nada) alat musik angklung sebagai musik tradisi Sunda kebanyakan adalah salendro dan pelog.
f. Ketuk dan Kenong
Kenong terbuat dari besi bahan goong dng diameter kecil 1 set terdiri dari 2 buah.
Cerita pemberontakan Ki Ageng Kutu, seorang abdi kerajaan pada masa Bhre Kertabhumi, Raja Majapahit terakhir yang berkuasa pada abad ke-15. Ki ageng Kutu murka akan pengaruh kuat dari rekan Cina rajanya dalam pemerintahan dan perilaku raja yang korup. Ia lalu meninggalkan sang raja dan mendirikan perguruan dimana ia mengajar anak-anak muda seni bela diri, ilmu kekebalan diri, dan ilmu kesempurnaan dengan harapan bahwa anak-anak muda ini akan menjadi bibit dari kebangkitan lagi kerajaan Majapahit kelak. Dengan minimnya pasukan jadi membuat suatu pementasan Reog, itu merupakan “sindiran” kepada Raja Bra Kertabumi dan kerajaannya. Pagelaran Reog menjadi cara Ki Ageng Kutu membangun perlawanan masyarakat usic menggunakan kepopuleran Reog. Dalam pertunjukan Reog ditampilkan topeng berbentuk kepala singa yang dikenal sebagai “Singa Barong”, raja hutan yang menjadi usic untuk Kertabumi, dan diatasnya ditancapkan bulu-bulu merak hingga menyerupai kipas raksasa yang menyimbolkan pengaruh kuat para rekan Cinanya yang mengatur dari atas segala gerak-geriknya. Jatilan, yang diperankan oleh kelompok penari gemblak (penari laki-laki) yang sekarang dinamakan jatilan (penari perempuan) menunggangi kuda-kudaan menjadi usic kekuatan pasukan Kerajaan Majapahit yang menjadi perbandingan kontras dengan kekuatan warok, yang berada dibalik topeng badut merah yang menjadi usic untuk Ki Ageng Kutu, sendirian dan menopang berat topeng singabarong yang mencapai lebih dari 50kg hanya dengan menggunakan giginya. Populernya Reog Ki Ageng Kutu akhirnya menyebabkan Kertabumi mengambil tindakan dan menyerang perguruannya, pemberontakan oleh warok dengan cepat diatasi, dan perguruan dilarang untuk melanjutkan pengajaran akan warok. Namun murid-murid Ki Ageng kutu tetap melanjutkannya secara diam-diam. Walaupun begitu, kesenian Reognya sendiri masih diperbolehkan untuk dipentaskan karena sudah menjadi pertunjukan usic diantara masyarakat, namun jalan ceritanya memiliki alur baru dimana ditambahkan karakter-karakter dari cerita rakyat Ponorogo yaitu Kelono Sewondono, Dewi Songgolangit, and Sri Genthayu.
Alur cerita Reog Ponorogo kini adalah cerita tentang Raja Ponorogo yang berniat melamar usic Kediri, Dewi Ragil Kuning, namun ditengah perjalanan ia dicegat oleh Raja Singabarong dari Kediri. Pasukan Raja Singabarong terdiri dari merak dan singa, sedangkan dari pihak Kerajaan Ponorogo Raja Kelono dan Wakilnya Bujanganom, dikawal oleh warok (pria berpakaian hitam-hitam dalam tariannya), dan warok disini memiliki ilmu hitam mematikan. Seluruh tariannya merupakan tarian perang antara Kerajaan Kediri dan Kerajaan Ponorogo, dan mengadu ilmu hitam antara keduanya, para penari dalam keadaan “kerasukan” saat mementaskan tariannya.
Hingga kini masyarakat Ponorogo hanya mengikuti apa yang menjadi warisan leluhur mereka sebagai pewarisan budaya yang sangat kaya. Upacaranya pun menggunakan syarat-syarat yang tidak mudah bagi orang awam untuk memenuhinya tanpa adanya garis keturunan yang jelas. Mereka menganut garis keturunan Parental dan usic adat yang masih berlaku.
2. Stuktur Pertunjukan
Perangkat musik reog sederhana, Irama melodi anehnya berasal dari bunyi terompet khusus yang disebut salompret bernada pelog diiringi rampak ketipung, kendang, ketuk, kenong, gong serta angklung yang bernada slendro. Nada-nada sumbang yang dihasilkan, yang merupakan panduan antara laras slendro dan pelog, menghasilkan suasanan mistik, aneh, sekaligus mempesona. Iramanya yang dinamis dan bergelora sangat mudah mengundang penonton untuk berkumpul. Pakaian pemain reog serba hitam dengan ikat kepala yang disebut udeng. Bajunya berwarna hitam, longgar, tidak bercorak dan dipakai tanpa mengaitkan kancingnya sehingga dada pemakainya tampak jelas. Celananya yang sangat longgar juga berwarna hitam : panjangnya hanya sampai di bawah lutut. Celana ini dilengkapi ikat pinggang (koloran) berwarna putih. Dalam iring-iringan pertunjukan, reog ponorogo biasanya terbagi dalam beberapa kelompok. Kekuatan pertunjukannya terletak pada pembagian kelompok yang masing-masing memilki fungsi sendiri tetapi saling melengkapi.
Kelompok pertama adalah kelompok pengawal atau kelompok pembuka, kelompok dengan sikap garang dan angkuh yang terdiri atas 3 sampai 4 orang bercelana panjang longgar hitam dengan kaus bergaris merah hitam; Kelompok pendamping bertugas mengamankan situasi dan biasanya berada di sisi kanan kiri rombongan; Kelompok penari terdiri atas pemain barongan, pemain topeng, penari kuda kepang, serta penari dan pemain cadangan; Kelompok pemukul gamelan yang lazimnya berada di belakang para penari terdiri atas peniup terompet, pemukul gendong dan gong, pemusik angklung, pemukul, ketuk kenong, pemukul ketipung serta 2 orang pemikul dan pemukul kempul, dan kelompok penggiring yang merupakan kelompok terbesar biasanya berada paling belakang untuk ikut menari, menyanyi dan bersorak sorai menghidupkan suasana.
Ada 3 pelengkap utama yang biasanya menyertai pertunjukan reog yakni:
1. Barongan yang melambangkan harimau dan dhadhak merak yang melambangkan burung merak.
2. Topeng.
3. Kuda kepang yang melambangkan binatang piaraan tunggangan manusia.
Ketiganya melambangkan karakter yang berbeda. Barongan dan dhadhak merak, yang selalu berpasangan sangat tenang, berwibawa meskipun angkuh. Singa bermahkota merak yang merupakan pasangan harimau dan merak menjadi usic khas reog. Topeng yang selalu dikenakan bujangganong yang pandai berakrobat menimbulkan kesan lucu dengan geraknya yang lincah. Namun bila kuda kepang mulai beraksi, pertunjukan mulai menyeramkan karena music magisnya meskipun gaya kuda kepang ini cukup lunak dengan usic mempesona yang memikat penonton. Sebagai sosok satria berkuda, penunggang kuda kepangnya diperankan oleh seorang anak laki-laki beraut manis yang disebut jatilan.
Dalam reog walaupun melambangkan sifat dan lakon yang berbeda-beda, barongan dan dhadhak merak yang tingginya mencapai 3 meter dalam wujudnya adalah satu. Keduanya berwujud kepala harimau dengan mahkota ekor merak yang bobotnya mencapai 70 kg ini lazimnya dipakai di kepala pemain dengan cara digigit. Tetapi dalam permainan kucing tikus untuk mengurangi bobotnya, ekor merak yang sangat lebar ini dilepas sehingga gerakan barongan menjadi lebih lincah. Topeng menjadi tikus, sedangkan barongan adalah kucingnya.
Reog ponorogo memiliki 3 wujud topeng, yakni topeng hewan, topeng manusia dan topeng raksasa. Topeng barongan adalah topeng hewan, sedangkan topeng bujangganong, topeng berwujud raksasa dengan dahi mengganong (menjorok) adalah topeng raksasa. Warna topeng raksasa ini merah tua atau hitam, matanya melotot, rambutnya panjang ke depan, serta hidungnya besar dan panjang. Yang merupakan topeng manusia adalah topeng kelono. Topeng berambut panjang ini memerankan prabu kelono sewandono. Gerak kuda kepang sangat lincah. Jatilan, penunggang kuda kepang adalah anak laki-laki, biasanya berwajah manis dan harus belum menikah. Dalam sendratari rakyat ini terdapat hubungan erat yang aneh antara pemborong (pemain barongan) dan jatilan (pemain kuda kepang yang disebut juga gemblak). Hubungan mereka mirip hubungan laki-laki dan wanita. Pemain barongan biasanya sangat kekar, kuat dan menguasai para gemblak. Dahulu tak jarang terjadi pertarungan antara satuan reog untuk memperebutkan gemblak. Karena itu jatilan biasanya selalu mendapat perlindungan khusus. Dalam iring-iringan reog, jatilan selalu berada di barisan paling depan.
3. Tokoh-tokoh dalam seni Reog
a. Barongan (Dadak Merak)
Barongan (Dadak merak) merupakan peralatan tari yang paling dominan dalam kesenian Reog Ponorogo. Bagian-bagiannya antara lain; Kepala Harimau (caplokan), terbuat dari kerangka kayu, bambu, rotan ditutup dengan kulit Harimau Gembong. Dadak merak, kerangka terbuat dari bambu dan rotan sebagai tempat menata bulu merak untuk menggambarkan seekor merak sedang mengembangkan bulunya dan menggigit untaian manik – manik (tasbih). Krakap terbuat dari kain beludru warna hitam disulam dengan monte, merupakan aksesoris dan tempat menuliskan identitas group reyog. Dadak merak ini berukuran panjang sekitar 2,25 meter, lebar sekitar 2,30 meter, dan beratnya hampir 50 kilogram.
b. Jatilan
Jathil adalah prajurit berkuda dan merupakan salah satu tokoh dalam seni Reog. Jathilan merupakan tarian yang menggambarkan ketangkasan prajurit berkuda yang sedang berlatih di atas kuda. Tarian ini dibawakan oleh penari di mana antara penari yang satu dengan yang lainnya saling berpasangan. Ketangkasan dan kepiawaian dalam berperang di atas kuda ditunjukkan dengan ekspresi atau greget penari yang lincah, terampil dan rampak.
Jathilan ini pada mulanya ditarikan oleh laki-laki yang halus, berparas ganteng atau mirip dengan wanita yang cantik. Gerak tarinya pun lebih cenderung feminin. Sejak tahun 1980-an ketika tim kesenian Reog Ponorogo hendak dikirim ke Jakarta untuk pembukaan PRJ (Pekan Raya Jakarta), penari jathilan diganti oleh para penari putri dengan alasan lebih feminin. Ciri-ciri kesan gerak tari Jathilan pada kesenian Reog Ponorogo lebih cenderung pada halus, lincah, genit. Hal ini didukung oleh pola ritmis gerak tari yang silih berganti antara irama mlaku (lugu) dan irama ngracik.
c. Bujang Ganong (Ganongan)
Bujang Ganong (Ganongan) atau Patih Pujangga Anom adalah salah satu tokoh yang enerjik, kocak, akrobatik, dan berani sekaligus mempunyai keahlian dalam seni bela diri sehingga disetiap penampilannya senantiasa di tunggu – tunggu oleh penonton khususnya anak – anak. Bujang Ganong menggambarkan sosok seorang Patih Muda yang cekatan, berkemauan keras, cerdik, jenaka dan sakti.
d. Warokan
“Warok” yang berasal dari kata wewarah adalah orang yang mempunyai tekad suci, memberikan tuntunan dan perlindungan tanpa pamrih. Warok adalah wong kang sugih wewarah (orang yang kaya akan wewarah). Artinya seseorang menjadi warok karena mampu memberi petunjuk atau pengajaran kepada orang lain tentang hidup yang baik.Warok iku wong kang wus purna saka sakabehing laku, lan wus menep ing rasa (Warok adalah orang yang sudah sempurna dalam laku hidupnya, dan sampai pada pengendapan batin).
Warok merupakan karakter/ciri khas dan jiwa masyarakat Ponorogo yang telah mendarah daging sejak dahulu yang diwariskan oleh nenek moyang kepada generasi penerus. Warok merupakan bagian peraga dari kesenian Reog yang tidak terpisahkan dengan peraga yang lain dalam unit kesenian Reog Ponorogo. Warok adalah seorang yang betul-betul menguasai ilmu baik lahir maupun batin.
e. Klono Sewandono
Klono Sewandono atau Raja Kelono adalah seorang raja sakti mandraguna yang memiliki pusaka andalan berupa Cemeti yang sangat ampuh dengan sebutan Kyai Pecut Samandiman kemana saja pergi sang Raja yang tampan dan masih muda ini selalu membawa pusaka tersebut. Kegagahan sang Raja di gambarkan dalam gerak tari yang lincah serta berwibawa, dalam suatu kisah Prabu Klono Sewandono berhasil menciptakan kesenian indah hasil dari daya ciptanya untuk menuruti permintaan Putri (kekasihnya). Karena sang Raja dalam keadaan mabuk asmara maka gerakan tarinyapun kadang menggambarkan seorang yang sedang kasmaran.
f. Pengrawit
Pemain music berjumlah kurang lebih 15 orang yang terdiri dari penabuh dan wirosworo (penyanyi).
4. Bambar gamelan-gamelan yang digunakan pada tari Reog :
a. Kendang
Kendang/Kempul standart (besar) terbuat dari bahan kayu utuh dan kulit sapi pilian Polos.
b. Kenong
Kenong terbuat dari besi bahan goong dng diameter kecil 1 set terdiri dari 2 buah.
c. Gong
Goong terbuat dari besi dengan ketebalan standart untuk menghasilkan suara sesuai irama reog 1 buah goong untuk bahan terbaik.
d. Terompet (serompet)
Tarompet, serompet, selompret adalah jenis alat usic tiup yang mempunyai 4-6 lubang nada dan bagian untuk meniupnya berbentuk corong. Seni usic tradisi yang menggunakan alat usic seperti ini adalah kesenian rakyat Tapanuli, Jawa Barat, Jawa Timur, Madura, Papua.
e. Angklung
Angklung adalah alat musik tradisional Indonesia yang berasal dari Tanah Sunda, terbuat dari bambu, yang dibunyikan dengan cara digoyangkan (bunyi disebabkan oleh benturan badan pipa bambu) sehingga menghasilkan bunyi yang bergetar dalam susunan nada 2, 3, sampai 4 nada dalam setiap ukuran, baik besar maupun kecil. Laras (nada) alat musik angklung sebagai musik tradisi Sunda kebanyakan adalah salendro dan pelog.
f. Ketuk dan Kenong
Kenong terbuat dari besi bahan goong dng diameter kecil 1 set terdiri dari 2 buah.
Langganan:
Postingan (Atom)