Pages

Tampilkan postingan dengan label ttp. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ttp. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 Januari 2012

tata lampu


Materi pertunjukan seperti seni tari, seni musik, seni drama, seni film  merupakan proyeksi dari hidup dan kehidupan manusia, tidak lepas pula dari masalah pencahayaan. Sejak zaman primitif kehidupan  di dunia membutuhkan pencahayaan terutama matahari di siang hari, dan api di malam hari.
 Orang hidup memiliki sikap budaya yang selalu berkembang, kebutuhan terhadap pencahayaanpun berkembang tidak hanya sekedar untuk kegiatan manusia dalam kehidupan sehari-hari saja, melainkan berkembang sebagai alat penerangan dalam melaksanakan upacara ritual dan akhirnya digunakan sebagai sumber penerangan dalam pertunjukan.
 Pencahayaan seni pertunjukan berasal dari dua sumber yang berbeda yaitu,  berasal dari Tuhan atau alam dan berasal dari buatan manusia. Pencahayaan yang berasal dari alam  andalah sinar matahari, bulan, dan bintang.  Pencahayaan buatan manusia  misalnya api unggun, obor, lilin, petromaks, dan listrik. Namun  tidak seluruhnya dapat diproyeksikan dalam pentas/pertunjukan.
A. Pengertian Tata lampu
Tata lampu adalah segala perlengkapan perlampuan baik tradisional maupun modern  yang digunakan untuk keperluan penerangan dan penyinaran dalam  seni pertunjukan.
B. Tujuan dan Fungsi Tata lampu
1.   Menerangi

komposisi pentas

Lakon yang dimainkan sebenarnya merupakan suatu rentetan gambar yang berarti dan menceritakan kisah, punya bentuk yang terwujud dalam batas kerangka proscenium. Salah satu tujuan gerak (movement) adalah meluluhkan (dissolve) suatu gambar untuk kemudian membentuk kembali (reform) gambar berikutnya.
Gambar – luluh dan membentuk – gambar – luluh dan membentuk
Gambar-gambar itu disebut komposisi. Proses luluh dan membentuk adalah gerak.
Komposisi – gerak – komposisi – gerak – komposisi dan seterusnya.
A.    Pengertain Komposisi Pentas
Komposisi pentas adalah penyusunan  yang berarti dan artistik atas bahan-bahan perlengkapan pada pentas. Aktor adalah bahan yang bergerak, dekorasi dan lain-lain peralatan pentas adalah bahan-bahan statis tidak bergerak. Komposisi pentas hendaklah direncanakan, dilatih, dan  dicoba. Dalam pertunjukan hampir tak ada waktu untuk melakukan pembetulan, maka keliru sedikit sudah menjadi suatu kegagalan.
Sesuai dengan kasus dari setting pentas, hakikat usaha itu adalah proses penyusunan tokoh-tokoh manusia sedemikian rupa sehingga garis kelompok yang tersusun menciptakan gambaran artistik yang berarti.
Dengan lain perkataan, usaha ini adalah perbaikan  dari lukisan kemanusiaan.Dalam membuat komposisi lukisan yang berarti dan artistik hendaklah diperhitungkan pula ”pola motif” yang ada dalam adegan serta batas-batas teknik teater konvensional.

dekorasi

               Mementaskan lakon adalah menampilkan visi sutradara. Scenery termasuk dalam penampilan visi itu. Untuk itu scenery perlu dirancang agar pelaksanaannya dapat membantu/menunjang pemeran atau memberikan keadaan lingkungan tempat pemeran berada.
A. Pengertian Dekorasi (Scenery)
              Dekorasi adalah elemen visual yang melingkupi seluruh area permainan. Elemen-elemen visual tersebut antara lain benda-benda alam, tumbuh-tumbuhan, batu-batuan,  dan perabot rumah tangga. Harymawan (1988)
Pergelaran teater merupakan suatu pergelaran yang diperuntukkan bagi penonton untuk dinikmati keindahannya, untuk dinikmati gerak laku pelaku beserta lingkungannya, untuk diketahui seberapa jauh pengaruh situasi dari lingkungan tadi terhadap pelaku (peran).
B. Tujuan dan Fungsi Dekorasi
 Tujuan dekorasi adalah untuk melatarbelakangi suatu permainan. Fungsi dekorasi adalah untuk membantu menghidupkan suasana sehingga lakon menjadi hidup.  Bila suatu adegan mengambil lokasi daerah perbukitan, maka  digunakan benda-benda alam misalnya gambar pegunungan dengan berbagai macam pepohonannya sebagai latar belakangnya. Dengan situasi semacam ini, diharapkan setting tempat akan dapat dimengerti penonton.

sejarah pentas

Untuk mengetahui lebih jelas tentang tempat pertunjukan/pentas perlu diketahui terlebih dahulu tentang sejarah yang terkait dengan seni pertunjukan.

A. Sejarah  Pentas (tempat pertunjukan)

1.      Zaman Primitif :
Lakon teater  yang disajikan pada zaman ini   bersumber pada kegiatan kultural, dengan tujuan kepercayaan, religi. Tempat pelaksanaan bergantung pada alamiah saat itu, di alam terbuka, di kompleks candi dimana tempat dewa bersemayam dan disembah.
2.      Zaman  Yunani :
Pada zaman Yunani lakon bersumber pada pemujaan Dewa Dionysos. Tempat pelaksanaan bentuknya  melingkar, tak ada batas antara pemain dan penonton. Kurang lebih lima abad sebelum masehi berkembang kehidupan kultural yang gemilang/abad keemasan sekaligus merupakan titik tolak sejarah teater barat. Konstruksi teater pada  zaman  Yunani  ada beberapa macam,
a.       Orchestra  : tempat bermain
b.      Tymele       : pusat orchestra, sebagai tempat puncak pemujaan
c.       Theatron    : tempat penonton
d.      Scene         : tempat berpakaian dan beristirahat pemain
Mula-mula tempat ini dibuat sangat sederhana, letaknya di depan theatron, kemudian dibuat lebih baik dan indah karena sekaligus digunakan sebagai latar belakang pemainan. Scene memiliki tiga pintu; pintu tengah adalah jalan masuk istana dan protagonis atau tokoh sentral. Kebiasaan ini menjadi tradisi bagi pementasan lakon Yunani dan Romawi.
e.       Parodos     : ruang untuk  keluar masuk pemain yang terletak di antara
   scene dan orchestra. Sebelah kiri/ kanan scene.

ruang lingkup ttp


 Seni tari merupakan salah satu jenis kesenian yang sudah ada sejak zaman dahulu, dan sampai saat ini harus dilestarikan keberadaannya. Oleh karena itu, sebagai  mahasiswa Jurusan Seni Tari harus dapat  melestarikan, mengembangkan seni tari agar tidak punah keberadaannya dan berkembang  selaras dengan perkembangan, kemajuan  ilmu pengetahuan, teknologi dan seni (IPTEKS). Di samping itu seseorang yang menggeluti bidang tari tidak cukup dengan belajar keterampilan menari saja, tetapi harus didukung dengan pengetahuan, apresiasi, dan ilmu seni yang lainnya.
Dengan demikian  di dalam mempelajari seni tari,  tidak   sekedar dapat menari saja melainkan harus pula mempelajari unsur-unsur lain yang tidak dapat ditinggalkan pada saat pentas. Komponen seni pertunjukan yang tidak dapat ditinggalkan misalnya tempat dan perlengkapan yang mendukung serta terkait satu sama lainya, yang semuanya  itu terdapat dalam  tata teknik pentas.
            Tata Teknik Pentas (TTP) merupakan  pengetahuan yang mempelajari seluk beluk tentang pementasan atau pertunjukan; antara lain  pengenalan pentas atau panggung (staging), komposisi pentas (composition), tata rias (make up), tata busana (costuming), tata lampu (lighting),  dekorasi (scenery), dan tata suara (sound sistem).